Awan Berlafadzkan Huruf Jalalah

AWAN BERLAFADLKAN LAFDLUL JALALAH “ALLAH” DILANGIT MALAM 23 RAMADLAN 2010

 

Karya: Suyadi,S. Pd. I (Religius Teacher Of 5 Junior High School Kroya)

 

Saya adalah seorang guru honorer disebuah lembaga pendidikan, SMP di kabupaten Cilacap Jawa Tengah. Saya lahir 1982, diamanati oleh Allah seorang anak perempuan berusia 3 tahun,istri saya juga seorang guru honorer di SD, usianya 28 tahun. Gaji saya dan istri tidak seberapa, tapi ya Alhamdulillah, kami tetap bersyukur. Karena gaji saya dan istri dialokasikan untuk beli susu anak, sayur, lauk pauk, bensin dan keperluan yang mendesak. Sepeda motor yang setiap 2 hari harus diisi penuh, karena kebetulan jarak tempat tinggal kami ke tempat mengajar jauh kurang lebih 12 Km.

Kami tinggal dirumah orang tua saya, untuk makan sehari-hari, kami selalu diberi beras orang tua. Walaupun kami sudah diberi beras oleh orang tua, tapi terkadang saya masih minta uang untuk beli susu anak, karena terkadang ada kebutuhan yang mendesak sedangkan uang gaji saya dan istri sudah habis.

Alkisah, suatu hari saya tidak punya uang, susu anak saya habis, anak saya nangis-nangis minta minum susu. Karena anak saya, siang atau malam, kalau mau bobo, terbangun ketika sedang bobo dan bangun tidur pasti minta minum susu. Terpaksa saya beranikan diri untuk minta uang sama orang tua, walau saya malu-malu, dan saya sangat merasa tidak enak sekali sama orang tua karena saya selalu merepotkan mereka walau saya sudah punya istri dan anak.

KEGIATAN DI SEKOLAH

Setiap tahun dibulan Ramadlan disekolahan mengajar saya pasti ada kegiatan untuk mengisi bulan yang mulia dan penuh berkah. Karena saya mengajar Agama, maka saya yang ditugasi kepala sekolah untuk mengurusi kegiatan Ramadlan. Karena terbiasa setiap tahunnnya maka sayapun siap melaksanakannya, dengan kegiatan pengumpulan zakat, pesantren kilat, buka bersama, sholat berjama’an, sholat tarowih berjama’ah dan pembagian zakat.

Pengumpulan zakat dan pembagiannya saya dibantu oleh waka kesiswaan dan pengurus osis siswa. Dalam pesantren kilat saya mengajar Tauhid, Akhlakq, Tajwid dan Hadits. Saya juga yang mencarikan buku-buku referensi dan materi untuk guru umum untuk bahan mengajar pesantren kilat. Sedangkan acara buka bersama para guru dan siswa yang mengisi mau’idhoh khasanah adalah saya, dilanjutkan sholat maghrib, isa dan tarowih berjama’ah yang menjadi imam juga saya.

KEGIATAN DI MUSHOLA DESA

Selain mengurusi kegiatan di tempat saya mengajar, setiap hari dimushola dekat tempat tinggal saya, sayapun yang mengurusi berjalannya kegiatan Ramadlan di Mushola dekat tempat tinggal saya. Selain aktif mengajar TPQ setiap sore, saya yang selalu menjadi pembawa acara pengajian ba’da sholat Tarowih, saya juga terjadwal menjadi pembicara. Setelah pengajian selesai, saya juga yang menggerakkan teman-teman pemuda untuk Tadarus Al Qur’an dengan menggunakan pengeras suara di Mushola desa kami.

Walaupun saya tidak setiap malam sholat tahajud dan membaca Al Qur’an sebelum Ramadlan, tapi Alhamdulillah saya berusaha untuk selalu melaksanakannya. Karena saya sangat mengharapkan mendapatkan malam lailatul qodar dengan segala keutamaannya. Maka setiap ba’da sholat fardlu, sholat sunnah, sholat tahajud saya selalu berdo’a kepada Allah agar di Ramadlan itu saya mendapatkan malam Lailatul Qodar.

Buku-buku tentang malam Lailatul Qodar dan kisah orang-orang yang mendapatkan malam lailatul Qodar selalu saya baca. Selain untuk referensi saya untuk ceramah di Mushola, saya juga berusaha mempraktekan bagaimana caranya seorang hamba Allah mendapatkan malam Lailatul Qodar.

Tiap malam saya pulang ke rumah sekitar jam 10 dari Mushola habis Tadarus Al Qur’an, walau terkadang istri menegur karena pulang malam. Alhamdulillah sebelum satu bulan penuh, saya dan teman-teman bisa mengkhatam 30 juz. Jam setengah 3 saya bangun untuk Sholat Tahajud di rumah, jam 3 ke Mushola untuk Tadarus Al Qur’an dan membangunkan warga untuk sahur dengan pengeras suara Mushola, ketika keluar rumah saya melihat lihat lingkungan rumah dan dijalan menuju Mushola, mbok ada hal-hal atau sesuatu yang aneh, tetapi biasa-biasa saja. Kemudian jam setengah 4 saya pulang kerumah untuk membangunkan istri dan sahur bersama.

MALAM 23 RAMADLAN

Tak terasa kebiasaan saya tiap hari sampai malam ke 23 Ramadlan 2010. Jam setengah 3 dini hari saya bangun, mengambil air wudlu lalu Sholat Tahajud. Pukul 3 saya ke Mushola untuk tadarus Al Qur’an dan membangunkan warga untuk sahur, dijalan saya tidak merasa ada keganjilan atau kejadian-kejadian yang aneh. Diluar rumah dan Mushola cuaca kurang bersahabat, langit agak mendung, rembulanpun cahayanya redup, udara begitu dingin, dan angin malam berhembus seakan menusuk-nusuk  tulang-tulang saya, apalagi saat itu disertai hujan grimis nan rintik-rintik.

Pukul setengah empat saya mau pulang kerumah, setelah keluar Mushola betapa heran dan terkejutnya saya melihat suasana diluar Mushola terang benderang, seolah-olah ada lampu sorot yang menerangi dari langit. Saya melihat kelangit, ternyata langit begitu terang, rembulan sang dewi malampun muncul dengan cahayanya yang indah nan menawan yang selalu setia menerangi dunia malam. Cuaca sangat berbeda ketika  saya berangkat ke Mushola, saat itupun hujan rintik-rintik telah tiada.

Belum selesai saya kagum melihat suasana yang bersahabat, udara yang sejuk, langit yang terang, cahaya rembulan yang indah nan menawan, subkhanallah Allahuakbar saya terperanjat, ternyata rembulan dikelilingi oleh awan bertuliskan Lafdlul Jalalah, yaitu “Allah” dengan tulisan arab. Bukan hanya disekitar rembulan saja, tetapi awan-awan dilangit yang lainpun bertuliskan Allah, beberapa Asmaul Husna, syahadattain, Muhammadur Rosulullah, Alhamdulillah, subkhanallah, dan kalimat takbir dengan tulisan arab. Maha besar Allah atas segala kebesarannya, dada saya bergetar dan selalu mengucapkan takbir.

Saya berjalan untuk pulang kerumah membangunkan istri untuk sahur, sambil sesekali menengokkan wajah saya kelangit, dilangit masih tetap ada pemandangan kebesaran Allah. Setelah kami sahur, saya menceritakan peristiwa barusan yang saya lihat pada isteri, lalu isteri pengin melihat, maka kami keluar rumah, betapa kagetnya isteri ketika melihat lafadl Allah di langit. Setelah kami menyaksikan beberapa menit, kamipun masuk rumah kembali. Saya mengajak isteri untuk sholat tahajud berjama’ah, dzikir dan berdo’a pada Allah. Sampai-sampai

 

saya meyakinkan sama isteri, bahwa malam itu  adalah malam Lailatul Qodar. Saya berkata kepada isteri “um, yu kita sholat tahajud jama’ah, dikir dan berdo’a soalnya abah yakin saat ini adalah malam Lailatul Qodar, kita mohon pada Allah sebanyak-banyaknya”. Isteri saya menjawab “ ya bah”. Ketika kami akan sholat jama’ah, anak kami bangun, menangis dan memanggil-manggil uminya, serta tidak mau ditinggal uminya, akhirnya isteri saya tidak jadi sholat. Maka saya sholat, zikir dan berdo’a sendiri sampai imsak dan waktu sholat subuh.

Ketika saya sholat, zikir dan berdo’a saat itu tidak seperti malam-malam biasanya, malam itu hening, terasa tenang, hati terasa khusu’, ketenangan hati yang luar biasa, tak terasa  air mata mengalir dengan deras, merasa sering berbuat dosa, merasa makhluk lemah tak berdaya, tidak punya kuasa, tunduk taat dan patuh hanya pada sang kuasa pencipta alam jagad raya. Melepas rindu rasa dahaga yang membara, tak ingin berpisah selalu ingin bercengkerama dengan Tuhan sang kuasa. Tetapi waktulah yang memisahkan, kokokan ayam jantan terdengar, kicauan burung mulai berkicau, waktu subuhpun datang, adzan bersahut-sahutan di masjid-masjid, mushola-mushola dan di Mushola tempat saya jama’ahpun berkumandang adzan dengan merdunya.

Maka saya bergegas mengambil air wudlu, walau dalam hati terasa berat untuk mengakhiri zikir dan do’a saya. Kemudian saya ke Mushola untuk jama’ah Subuh, di jalan melihat kelangit, lafadl Allah masih ada walau tidak mengelilingi rembulan dan rembulanpun  tidak seindah yang saya lihat ketika pulang dari Mushola.

Ba’da sholat Subuh saya jalan-jalan dengan teman keliling desa, sambil mengalungkan sajadah dan sorban dileher, lidah sibuk melafadlkan kalimat tasbih, hamdalah dan takbir sambil menggerakkan biji-biji tasbih dengan jari jemari, pagi yang cerah indah nan cantik, udara sangat segar dan sejuk, angin berhembus dengan halus nan sepoi-sepoi, air embun yang bening direrumputan pinggir jalan dan didaun-daun padi yang masih hijau disawah, sinar matahari di ufuk timur nampak kuning kemerah-merahan, suara kokokan ayam jantan telah berkurang, suara kicauan burung tampak bertambah ramai. Sayapun tak bosan-bosan melihat keatas, ternyata pagi itu awan bertuliskan Allah, kalimat tayyibahpun masih ada, rembulan telah sirna. Saya memberitahukan teman yang jalan bareng, teman saya juga terheran-heran.

Setelah saya pulang kerumah, sudah mandi maka saya dan isteri berboncengan naik sepeda motor berangkat untuk mengajar. Matahari meninggi, tetapi anehnya sinarnya redup, tidak seperti biasanya, biasanya panas atau menyengat, seakan-akan sang surya malu menampakkan wujud aslinya. Cuaca sangat bersahabat, anak-anak kecil bermain dengan gembira ria, pelajar ke sekolah berangkat dengan bahagia dan orang-orang bekerjapun berangkat dengan suka hati.

Sambil mengendarai sepeda motor saya berkata sama isteri mengenai suasana saat itu, cuaca yang cerah, udara yang sejuk dan segar, angin yang berhembus sepoi-sepoi, serta saat itupun saya juga masih menangkap awan berlafadl Allah dilangit yang cerah, isteri sayapun,meng-amini. Ya walaupun saat itu terlihat jelas, awan yang bertuliskan Allah lama kelamaan pudar dihembus angin.

Terkadang awan mengumpul membentuk tulisan Allah, lalu ada hembusan angin hilang atau pudar, kemudian diantara kumpulan-kumpulan awan yang lain juga demikian, sampai berulang kali. Subkhanallah, peristiwa ini sampai sore hari, hari ke 23 Ramadlan tahun 2010.

Demikianlah kisah yang saya alami dengan mata kepala saya sendiri, tapi itu adalah kemampuan kata-kata saya, karena menurut saya peristiwanya lebih mulia, lebih besar, lebih inda, lebih cantik dan lebih hebat atau lebih luarbiasa serta berwibawa dari sekedar kata-kata yang saya rangkai. Dan peristiwa itu dibenarkan oleh beberapa orang, serta saya juga konsultasi sama orang yang dianggap mumpuni dalam hal agama. Terima kasih termuatnya kisah saya, semoga kita bisa mengambil pelajaran dan memetik hikmahnya serta selalu merenungi kebesaran-Nya.Amin.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s