Awal Dari Sebuah Cita-Cita

Awal dari sebuah cita-cita

By.ahmad fajri

 

Cerita ini menceritakan seorang anak yang selalu semangat dan berfikir untuk masa depanya.

 

Sungguh senang hatiku ini awal pertama masuk sekolah dan awal pula aku menimba berbagai ilmu pengetahuan untuk masa depanku,kenalin namaku jery aku adalah siswa kelas satu SD di sebuah desa terpencil,tetapi aku tetap semangat walaupun  anak desa tetapi aku tidak kalah saing dengan anak-anak kota.

Suatu hari aku bertemu dengan kepala sekolah ketika aku berada di kantin,sapa kepala sekolah “Selamat pagi jery”,sapa kepala sekolahku dengan ramah,dan aku jawab pula dengan ramah dan sopan “pagi pak guru!”,kepala sekolapun tersenyum ketika mendengar sapaan dari bibir manisku dan imutz,kepala sekolah bertanya padaku “Jer,jika besar nanti kamu pengin jadi apa?”,jawab Jery,”aku pengin jadi dokter bedah ,pak guru,sebab dokter bedah adalah pekerjaan yang mulia”,pak guru kagum dengan cita-citaku “wah bagus tuh,pak guru bangga punya murid seperi kamu,tapi ingatlah jer pesan pak guru,jangan mudah mnyerah dan selalu berusaha ”,akupun menjawabnya dengan nada penuh keseriusan “iya pak guru”.

Enam tahun telah berlalu sekarang aku sudah duduk di bangku kelas enam SD,hari ini adalah hari yang sangat istimewa bagiku sebab sekarang adalah jadwal mata pelajaran favoritku yaitu IPA.Jam dinding di ruangan sudah menunjukan pukul 07.15,saatnyalah aku menerima mata pelajaran dari guruku.Datang dari arah utara dan mengetuk pintu “Selamat pagi anak-anak” sapa guruku ,dan  kamipun menyapanya “pagi bu guru”,tiba-tiba bu guru menatap kami semua dan bibir manisnya berkata “anak-anak ayo siapa yang punya cita-cita,acungkan jempolnya yah,nanti kalau ada yang menjawab bu guru akan kasih nilai plus untuk kalian”,akupun mengacungkan jempol,”yah bagus sekali kamu jer,coba Ibu mau tanya,apa sih cita-cita kamu?”,jawab aku degan penuh kepercayaan diri “cita-citaku ingin jadi dokter bedah ,bu guru, sebab itu adalah pekerjaan yang mulia”,gurukupun menyikapinya dengan nada yang marah dan tidak suka jika cita-citaku itu ingin menjadi dokter “emang orang tua kamu bisa apah,membiayai semua itu,tetangga saya aja yang jadi dokter menghabiskan uang banyak,coba jer kamu pikir-pikir dulu?”,akupun menjawabnya dengan penuh kemarahan dan kebencianku terhadapnya “bu guru,maaf yah bu kata bu guru cita harus setinggi langit,kalau misalkan orang tua saya ngga bisa membiayain saya jadi dokter juga gak apa-apa,itukan cuman sebuah cita-cita atau tujuan dari sebuah kehidupan,kalau bu guru menganggap saya ngga bisa ,tentu saya akan buktikan kepada bu guru bahwa aku bisa,dan aku bukanlah siswayang mudah menyerah”.teman-temankupun bertepuk tangan padaku                 .    Saatnyalah aku pulang,jam sekolah sudah menunjukan pukul 12.30.Akupun pulang bersama teman-temanku pada waktu pulang aku berfikir “mengapa bu guru,bilang seperti itu padaku?,padahal aku hanya mengungkapkan sebuah cita-cita,dan aku akan simpan kata-katamu bu guruku bahwa aku tuh bisa,dan aku bukanlah orang yang mudah menyerah ketika kata-kata menyakitkan menampar hatiku,tetapi aku harus semangat dan aku akan buktikan kepada guruku sebuah cita-cita bukanlah tujuan utama  tetapi itu hanyalah sebagai tujun hidup seseorang agar tidak tersesat dalam gelapnya dunia,dan aku ingin mewujudkan cita-citaku setinggi langit”….

 

Cerita ini hanyalah fiktif belaka

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s